Aku tidak akan melupakan kejadian kecil ini.
Kejadian yang mempertemukan aku denganmu.
Kejadian yang sampai saat ini membuat ku ingin terus mengingatmu.
Waktu itu, saat Masa Orientasi Siswa kau berbaris di barisan kedua paling pojok. Kau memakai baju putih-biru dengan topi kerucut berwarna merah. Aku masih bisa melihatmu dengan jelas dari lantai 2.Wajahmu putih, hidung mancung, alis sedikit tebal, dan bibir yang tipis. Sempurna..
Saat itu tak sengaja mata kita bertemu, ahh entah apa yang ada di fikiranku saat itu. Aku ingin memilikimu. Saat mata kita bertemu, kau tersenyum ke arahku (mungkin) tapi bisa saja kau tersenyum ke seseorang di sampingku.. Aku tidak peduli, yang terpenting kau tersenyum, entah ke arah siapa. Tapi aku (berharap) kau memberikan senyuman itu untukku.
Aku melihat wajahmu dengan begitu jelas, kau sedang mendengarkan dan memperhatikan kakak OSIS itu berbicara. Dengan tampang mu yang serius itu, tiba-tiba kau tertawa. Entah lelucon apa yang sudah di buat oleh kakak OSIS itu sehingga membuatmu tertawa.
Tawa kecil yang keluar dari bibirmu itu menceriakan hatiku. Indah. Aku hanya bisa tersenyum dan terus memandangimu. Tapi ternyata aku tak bisa memandangimu lebih lama lagi. Aku harus masuk kelas untuk mengikuti pelajaran. Dan aku berharap, kita bisa bertemu esok hari. Brondong misteriusku :)
Selasa, 29 Oktober 2013
Rabu, 28 Agustus 2013
Jatuh Cinta Karena Terbiasa (Part 2)
Tanganku memegang sebuah kotak kecil yang ku simpan di atas
lemari bajuku. Kotak yang mengingatkanku tentangmu. Ketika aku membuka kotak
tersebut, aku memang kembali mengingatmu. Ternyata isi dari korak kecil ini
adalah smeua pemberian darimu.
Kamu tahu? Semenjak kamu pergi begitu saja dari hidupku, aku
merasa dunia ini sepi. Tak ada lagi kamu yang selalu mengantarkan bubur
kesukaanku. Tak ada lagi kamu yang menemaniku melalui malam yang sepi. Nyatanya
memang kau sudah pergi menjauh.
Sayang? Aku merindukanmu. Merindukan semua yang pernah kita
lalui. Kenangan tentangmu masih teringat jelas di fikiranku. Tapi itu dulu,
Saat ini aku sedang dekat dengan seorang wanita. Dia mirip sepertimu. Dia lucu,
baik, dan perhatian. Kami satu sekolah, dan aku menyukainya.
Rasa yang saat ini aku alami, sama seperti dulu kerika aku
menyukaimu. Awalnya, aku memang tidak bisa melupakanmu. Tapi karena aku
terbiasa tanpamu, sekarang aku sudah bisa menghilangkan perasaan ini padamu.
Mungkin kamu ada benarnya juga, kamu bilang “jatuh cinta itu
datang karena terbiasa” nyatanya memang begitu. Aku jatuh cinta adanya karena
terbiasa, biasa barengbareng, biasa
mengerjakam tugas bareng, sama seperti kita dulu.
Sayang, sampai detik ini. Ketika aku menuliskan surat ini.
Aku belum bisa menghilangkan kenangan kita. Walaupun kini aku mencintai wanita
lain. Tapi aku masih mengingat kenangan kita. Bukankah manusia tidak akan bisa
melupakan kenangan? Move on bukan berarti menghilangkan ingatan, tapi move on
itu berarti menghilangkan perasaan :)
Sekali lagi kau benar. Aku jatuh cinta padanya karena
terbiasa :)
Jumat, 16 Agustus 2013
Jatuh Cinta Karena Terbiasa (part1)
Katamu "aku yakin kamu pasti bisa jatuh cinta padanya. Ingat, jatuh cinta datang karena terbiasa"
Aku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Ketika kita sedang makan di sebuah rumah makan yang sederhana. Saat kau menatapku, aku bisa merasakan tatapan itu lagi. Tatapan itu bilang padaku bahwa saat ini kau sedang membutuhkan seorang pria yang bisa ada disaat kau membutuhkannya. Aku tahu, tentu saja pria itu bukan aku.
Kau sedang mengharapkannya, seorang pria yang selama ini kau idamkan. Bagiku, pria itu sempurna. Sangat sempurna. Lalu kamu meneruskan pembicaraan kita yang sempat terputus tadi. "kau menyukainya?" tanyamu tiba-tiba. "bisa jadi, dia sama sepertimu, dia baik, manis, tapi rasanya sulit untuk mencintainya" ucapku dengan sedikit senyuman.
"kenapa? Bukankah wanita itu sama sepertiku? Lalu kenapa kau tak bisa mencintainya?" tanyamu lagi. "dia memang sama sepertimu. Tapi dia tak sepenuhnya bisa mengantikanmu! Dia hanya bisa mengisi seperempat hatiku. Dia tak bisa menggantikanmu!!" ucapku. Sepertinya airmata ku mulai menetes. Jangan salah sangka dulu, aku bukan pria lemah. Ketika hatinya merasa tersakiti, terkadang pria sekuat apapun, pasti akan menangis.
"sudahlah kau jangan menangis, aku tak bisa melihatmu menangis" ucapmu. Lalu kau menawarkan ku sebuah pelukan. Aku bisa merasakan itu lagi, pelukan yang hangat yang bisa membuat airmataku berhenti sejenak. "aku tak ingin kau terus mengharapkanku. Aku ingin melihatmu bahagia. Aku tahu, aku tidak akan bisa membuatmu bahagia, jadi pergilah bersamanya" ucapmu singkat.
"aku tahu, tapi aku lebih mencintaimu. Aku hanya sedikit menyukainya" ucapku. "aku yakin kamu pasti bisa jatuh cinta padanya. Ingat, jatuh cinta datang karena terbiasa" jawabmu. Kamu tersenyum tipis. Ah, aku merindukan senyuman itu.
"ya, kamu benar. Jatuh cinta datang karena terbiasa. Sama seperti kita dulu" ucapku. "pergilah, kau pasti bahagia bersamanya" ucapmu singkat. Kemudian kau pergi dengan menggandeng seorang pria yang daritadi memperhatikan kita dari luar cafe. Seorang pria yang kau cintai dan kau harapkan. Kau benar, jatuh cinta datang karena terbiasa. Jatuh cinta karena terbiasa. Aku akan mencobanya.
Aku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Ketika kita sedang makan di sebuah rumah makan yang sederhana. Saat kau menatapku, aku bisa merasakan tatapan itu lagi. Tatapan itu bilang padaku bahwa saat ini kau sedang membutuhkan seorang pria yang bisa ada disaat kau membutuhkannya. Aku tahu, tentu saja pria itu bukan aku.
Kau sedang mengharapkannya, seorang pria yang selama ini kau idamkan. Bagiku, pria itu sempurna. Sangat sempurna. Lalu kamu meneruskan pembicaraan kita yang sempat terputus tadi. "kau menyukainya?" tanyamu tiba-tiba. "bisa jadi, dia sama sepertimu, dia baik, manis, tapi rasanya sulit untuk mencintainya" ucapku dengan sedikit senyuman.
"kenapa? Bukankah wanita itu sama sepertiku? Lalu kenapa kau tak bisa mencintainya?" tanyamu lagi. "dia memang sama sepertimu. Tapi dia tak sepenuhnya bisa mengantikanmu! Dia hanya bisa mengisi seperempat hatiku. Dia tak bisa menggantikanmu!!" ucapku. Sepertinya airmata ku mulai menetes. Jangan salah sangka dulu, aku bukan pria lemah. Ketika hatinya merasa tersakiti, terkadang pria sekuat apapun, pasti akan menangis.
"sudahlah kau jangan menangis, aku tak bisa melihatmu menangis" ucapmu. Lalu kau menawarkan ku sebuah pelukan. Aku bisa merasakan itu lagi, pelukan yang hangat yang bisa membuat airmataku berhenti sejenak. "aku tak ingin kau terus mengharapkanku. Aku ingin melihatmu bahagia. Aku tahu, aku tidak akan bisa membuatmu bahagia, jadi pergilah bersamanya" ucapmu singkat.
"aku tahu, tapi aku lebih mencintaimu. Aku hanya sedikit menyukainya" ucapku. "aku yakin kamu pasti bisa jatuh cinta padanya. Ingat, jatuh cinta datang karena terbiasa" jawabmu. Kamu tersenyum tipis. Ah, aku merindukan senyuman itu.
"ya, kamu benar. Jatuh cinta datang karena terbiasa. Sama seperti kita dulu" ucapku. "pergilah, kau pasti bahagia bersamanya" ucapmu singkat. Kemudian kau pergi dengan menggandeng seorang pria yang daritadi memperhatikan kita dari luar cafe. Seorang pria yang kau cintai dan kau harapkan. Kau benar, jatuh cinta datang karena terbiasa. Jatuh cinta karena terbiasa. Aku akan mencobanya.
Kamis, 27 Juni 2013
Tersirat sebuah memori lama :')
"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013"
Aku kembali menatap kardus yang ada di depanku. Kardus ini
mengingatkan ku dengan seorang cowok yang pernah mengisi hari-hariku. Hubungan
ku dengannya bertahan cukup lama, hampir satu tahun. Hubungan yang awalnya
benar-benar membuatku bahagia, tetapi pada akhirnya membuatku kembali merasakan
sakit hati.
Jujur, ada sedikit kebencian yang terpendam di hati ini.
Tapi aku tidak bisa mengungkapkan ini padanya. Dia sungguh jahat!! Tak ada
sepatah kata maaf yang terucap dari mulutnya, seakan akan dia tak mempunyai
salah apapun padaku. Ini memang menyakitkan.
Aku kembali menatap kardus yang ada di depanku. Ada sebuah
boneka sapi yang mungil, aku masih mengingatnya. Boneka ini ia berikan saat aku
berulang tahun. Saat itu umurku masih 15 tahun. Waktu itu aku sedang istirahat
dan tiba-tiba dia datang kerumahku sambil membawa sebuah bungkusan kado. Aku
senang mengingatnya.
Dan ada sebuah sapu tangan berwarna biru, ini membuatku
kembali mengingat kejadian waktu itu.
“aku minta maaf karena sudah membuat kesepakatan gila
seperti ini, jujur aku kangen banget sama kamu, aku kira dengan tidak ada
komunikasi kita bisa berkosentrasi menghadapi Ujian Nasional, tapi aku salah,
ini malah membuatku tidak berkosentrasi. Aku kangen banget sama kamu” ucap dia
saat kami bertemu dirumahku.
“aku juga kangen banget sama kamu, iya aku maafin kok”
jawabku singkat.
“ini ada sapu tangan buat kamu. Simpan ini baik-baik yaa?
Fungsi dari sapu tangan ini, aku pengen ini bisa menghapus airmata kamu saat
aku nggak ada. Aku gak mau ngeliat kamu nangis sayang”
Bodoh!! Kenapa kenangan ini begitu melekat dalam pikiranku??
Kenapa ketika mengingat semua ini, aku jadi merasa ingin kembali lagi ke masa
lalu, masa dimana kita masih ada :’)
Kenyataannya sapu tangan ini memang sedikit membantuku, ini
selalu aku gunakan saat aku menangis, terutama saat aku menangisi nya. Hubungan
yang singkat dan begitu penuh cerita ini aku tuliskan di sebuah Diary kecil
milikku.
Saat aku sedang memikirkannya, saat kami sedang bertengkar,
semua saat-saat itu selalu aku tuliskan di Diary ini. Seperti anak kecil saja
yaa? Tolong jangan tertawakan ini, karena Diary ini akan benar-benar berarti
ketika seseorang yang kita sayangi pergi. Diary inilah satu-satunya saksi bisu
perjalanan hubungan ini.
Entah kenapa, rasanya sulit melupakan kenangan ini. Sosok
dia selalu saja ada di bayanganku, mungkin semua kenangan ini akan aku simpan
dalam-dalam, sampai ada sesosok laki-laki yang hadir dalam kehidupanku lagi,
yang bisa membangun rumah tangga yang baik. Ah! kenapa khayalanku semakin
tinggi saja!!
Aku akan menyimpan kenangan ini baik-baik.
Hubungan yang singkat tetapi di dalamnya memiliki sejuta
kenangan. Itulah kita 4 februari 2012 :’)
Langganan:
Postingan (Atom)
