Sabtu, 01 November 2014

Drama

                Kedekatan kita selama ini terlalu singkat jika disebut pertemanan. Kedekatan ini juga terlalu jauh jika disebut lebih dari teman. Kita sama-sama belum bisa melupakan masa lalu, karena itulah kita bisa sedekat ini. Kedekatan ini semakin bertambah ketika kita harus sama-sama membuka hati agar tidak berlarut dengan masa lalu. Ya, kamu membuka hatimu untukku, begitu pula sebaliknya. Memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena luka lama masih tersimpan.

                Kau mengembalikkan senyumanku yang dulu. Kau hadir dan membuatku merasakan rasa itu lagi. Sapaan lembut disetiap pagi dan malammu membuatku luluh, dan membuatku benar-benar siap membuka hati untuk orang baru, kamu.

                Hari berganti, kita semakin dekat. Bahkan kau juga lebih sering mengajakku pergi walaupun hanya sekedar makan bersama. Semakin lama, perasaan ini semakin berbeda. Rasa yang lebih dari teman, rasa ingin memiliki. Tapi perkataanmu semalam membuatku ingin membuang jauh-jauh perasaan itu. Kau mengatakan bahwa kau sedang menyukai wanita lain, dan aku tahu wanita itu bukan aku. Mungkin pernah, tapi sekarang tidak.

                Bagaimana bisa, aku yang membuatmu untuk move on, tapi kau malah move on ke wanita lain. Bagaimana bisa, aku yang hadir di setiap malammu tapi kau malah hadir disetiap malamnya. Bagaimana bisa, aku yang mencintaimu dengan sangat dalam, tapi kau malah mencintainya.

                Sekarang setelah semuanya sudah terlanjur terjadi, siapa yang harus disalahkan? Kita tidak mungkin menyalahkan takdir, atau mungkin memang kita berdua yang salah? Ya, aku yang salah karena telah menganggap semua perhatianmu nyata. Kamu pun salah karena telah membuatku jatuh cinta.
                Bahkan sampai saat ini aku masih belum menemukan jawabannya. Aku masih bingung harus menyebut hubungan kita ini apa? Tetapi aku sadar, bahwa selama ini kita sedang bersama, bukan bersatu. Entah drama seperti apa yang sedang kau mainkan, yang jelas aku terjebak, dan aku beneran sayang sama kamu.


Selasa, 26 Agustus 2014

Harapan..

Ternyata yang aku takutkan terjadi, rasa ini semakin membesar, sementara kau hanya memberikanku harapan palsu. Mungkin aku yang selama ini terlalu berharap lebih. Mungkin aku salah mengartikan perhatianmu, aku tau sejak awal kau menganggapku hanya sebagai teman, tidak akan pernah lebih dari itu. Tapi salahkah jika aku berharap? Tentu saja aku salah, jika berharap kepada orang sepertimu. Seharusnya aku tau sejak awal, jika perhatian kecilmu hanya sebatas perhatian sebagai teman, tidak lebih. Aku yang bodoh karena telah menganggapnya berlebihan.
Percakapan kita semalam membuatku semakin yakin bahwa kau hanya menginginkan hubungan ini sebatas pertemanan saja. Ingatkah kamu saat kau memanggilku teman? Ada perasaan yang tak bisa ku jelaskan. Aku bahagia, tapi hati kecilku merasakan sakit. Harus aku sebut apa perasaan ini? Perasaan ini semakin membesar, terlebih saat kau memanggilku dengan sebutan sayang. Saat kau memanggilku seperti itu, tentu saja rasanya aku ingin terbang, tapi otakku menyuruhku untuk tidak terbang dulu, karna takut aku terjatuh lagi.
Beberapa kali otakku sudah menyuruhku pergi. Tapi entah mengapa sampai detik ini aku masih bertahan. Aku masih menyimpan perasaanku padamu. Aku masih menyukai perhatian kecilmu. Aku masih sering merindukan suaramu. Ini memang cinta. Aku mulai menyayangimu, sahabatku.
Bukan cinta yang salah, ini hanya masalah waktu. Biarlah rasa ini mengalir dengan sendirinya. Jika memang akhirnya tak seindah yang ku bayangkan, mungkin Tuhan sedang mempersiapkan orang yang nantinya akan membahagiakanku. Jika memang akhirnya seindah yang ku bayangkan, mungkin Tuhan mempersilahkan aku untuk bahagia terlebih dahulu :)
Terimakasih untuk semua perhatian yang kau berikan. Terimakasih untuk semua harapan palsu yang kau berikan. Mungkin aku yang salah mengartikan semua ini. Mungkin aku yang salah karena telah mengharapkanmu. Selamat malam harapanku, selamat malam kamu..
devintaca.tumblr.com

Tanpa Kepastian..

Entah harus ku sebut apa perasaan ini.
Saat melihatmu ada perasaan yang timbul secara tiba-tiba. Aku mulai menyukai senyumanmu. Saat aku mendengar suaramu ada perasaan yang timbul secara tiba-tiba. Aku mulai menyukai kata-katamu. Saat aku melihatmu dengannya ada perasaan yang timbul secara tiba-tiba. Aku mulai mengerti bahwa ini cinta.

Bagaimana mungkin kita bisa bersama jika sampai saat ini kita tak saling mengungkapkan. Bagaimana mungkin aku bisa membuka hati ini jika kau sendiri tak memberikan perhatianmu padaku. Kita sudah bersahabat sejak satu tahun yang lalu, lalu apakah wajar jika aku menyayangi sahabatku sendiri? apakah perasaan ini wajar?
Temanku pernah menyuruhku untuk membuka hati, dan mungkin ini saatnya. Membuka hati untuk mu. Tapi ada satu hal yang masih membuatku bingung, kau tak pernah menunjukkan perhatianmu, kau tak pernah menunjukkan kalau kau menyayangiku. Bagaimana aku bisa membuka hati ini lebar-lebar? aku hanya takut terluka lagi, sayang. Aku pernah beberapa kali terluka, dan itu sakit.
Bahkan sampai saat ini, saat aku mulai berharap hubungan ini bisa lebih dari pertemanan, kau belum juga mengungkapkan perasaanmu padaku. Memangnya aku ini apa? Aku bukan jemuran yang bisa kau gantung seenaknya. Wanita juga butuh kepastian, setidaknya jika kau tidak menyayangiku, aku masih memiliki waktu untuk membuka hati untuk orang lain lagi. jangan menghabiskan waktu ku hanya untuk menunggu mu.
Yang aku takutkan hanya satu, rasa ini semakin membesar sedangkan kau hanya memberikanku harapan palsu. Entahlah, otakku sudah menyuruh untuk pergi, tapi hati kecilku menolaknya. Aku harap Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, sehingga tak ada lagi yang tersakiti, amin.
Untuk seseorang yang telah berhasil mengetuk pintu hatiku, Kamu…
Devintaca.tumblr.com

Selasa, 14 Januari 2014

Tak selamanya orang yang kamu percayai itu baik..

Untuk seseorang yang pernah aku cintai..
Kamu..

Saat aku menulis ini, mungkin kamu sudah bersamanya. Bersama seseorang yang kamu sayangi. Sejauh apapun kamu berusaha menyembunyikannya, aku tetap tahu. Karena, tatapan matamu tak sehangat dulu. Senyumanmu tak selebar dulu. Tindakanmu, cara bicaramu, semuanya berubah. Aku tahu selama ini kau mencintainya di belakangku. Beberapa kali aku memergokimu sedang tersenyum ke arahnya, padahal saat itu kau sedang bersamaku. Tak hanya itu sayang, saat kau beralasan tidak bisa menjemputku, aku tak sengaja melihatmu sedang bersama wanita itu. Wanita yang merebutmu dariku. Aku tak bermaksud mengucapkan ini, tapi memang itu kenyataannya. Dia tak sebaik yang kamu kira..

Perjumpaan kita waktu itu membuatku semakin yakin bahwa kau benar benar mencintainya. Kita bertemu di sebuah cafe yang ada di Jakarta. Saat itu kau membawa wanita itu bersamamu. Aku tak mengerti mengapa kau bisa mengajaknya sementara disini ada aku. Kemudian kau menghampiri au yang sedang menyantap makan siangku. Kau hanya berkata beberapa kalimat saja, dan itu sudah membuatku mengerti, bahwa selama ini aku salah memilihmu.

"Sa, maaf hubungan kita cuma bisa sampai disini. Aku tidak bisa melanjutkannya karena menurutku wanita ini lebih baik darimu"
Kau hanya mengucapkan kalimat itu dan hampir saja membuat jantungku copot. Aku hanya diam, mencoba menarik napas panjang dan berusaha untuk tetap sabar. Melihatku tidak ada respon, kau pu  pergi tanpa sepatah kata apapun. Dan itu menyakitkan..

Beberapa bulan setelah kejadian itu, kau mencoba menghubungiku lagi. Entah karena apa, tapi aku tidak peduli. Aku tetap menjalani rutiitasku seperti biasa, dengan dia, seorang pria yang berhasil merebut hatiku. Saat aku sedang bersamanya, tiba-tiba kau datang. Kau berusaha tetap ceria di hadapanku, padahal saat itu hatimu sedang hancur. Aku bisa melihat di pelupuk matamu, sayang. Kau menyapaku seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kemudian kau mengajakku mengobrol tanpa memperdulikan seseorang yang sedang bersamaku.

Saat itu, kau menyesali perbuatannmu. Kau mengajakku untuk kembali menjalin hubungan, tidak semudah itu. Dulu kau meninggalkanku karena wanita lain, sekarang dengan mudahnya kau mengajakku balikan? begitu bodohnya kamu!

"wanita itu hanya menginginkan hartaku, dia tak sepenuhnya mencintaiku. Aku salah telah memberikan keputusan seperti itu, aku kira dia lebih baik darimu tapi nyatanya tidak"
Aku hanya mengangguk kecil, rasanya percakapan ini terasa begitu lama.

"memang penyesalan itu datangnya di belakang, kan aku sudah pernah bilang. Dia tak sebaik yang kamu kira"

Dari seseorang yang pernah kau sakiti,
*******