Alunan lagu “Rama-bertahan” menemaniku saat menuliskan cerita ini. Masih sama seperti tahun 2014. Masih disini, masih dengan perasaan yang sama, masih dengan orang yang sama. Cerita ini masih berisi tentang kamu. Bukankah setiap bulan selalu begitu? Aku yang bodoh karena masih saja memikirkan kamu, karena aku masih saja menuliskan cerita tentang kamu, tentang kita. Hanya saja kali ini berbeda. Aku lupa sudah berapa lama menunggumu. Aku lupa sudah berapa banyak waktu yang aku buang hanya untuk memikirkan kamu. Mungkin ini sudah saatnya aku berubah. Mungkin sudah waktunya isi cerita ini berbeda.
Bukannya aku berhenti mencintaimu atau bahkan melupakanmu. Aku hanya lelah dengan ketidakjelasan kita. Aku lelah karena kamu tetap saja seperti ini. Kamu tetap seperti orang yang tidak aku kenal. Sudah 6 bulan kita dekat, dan selama itu pula aku menunggumu. Bahkan sebenarnya lebih dari itu. Kau tidak tahu kan? Karena itu lah aku lelah, dan rasanya ingin pergi dari zona yang membuatku melupakan segalanya. Melupakan waktu bahkan semua yang tidak terhitung nilainya.
Beberapa jam yang lalu aku membaca pesan singkat yang sudah lama kau kirim. Ternyata kita pernah sedekat itu ya? Aku merindukannya, merindukan kamu yang seperti dulu. Tapi sayangnya, waktu tidak pernah bisa di putar kan? Semuanya sudah terjadi, kita sudah seperti ini. Bahkan sudah terlambat untuk mengatakan semuanya. Karena sayang sendirian itu sakit.
Pernah terfikirkan olehku untuk pergi, aku ingin meninggalkan semuanya; semua tentang kamu, tentang kita. Karena bagiku, penantian ini sia-sia. Karena sia-sia saja memberikan perhatian ke kamu jika ternyata kamu terlalu sibuk mendapat perhatian orang lain. Aku lelah harus disebut sebagai perusak hubungan orang, aku lelah harus dipanggil sebagai perebut kekasih orang. Aku lelah dengan semua perkataan dan cemoohan itu. Kau tidak akan pernah mengerti rasanya jadi aku. Ketika semua orang menilai aku yang salah, aku yang dijadikan sebagai peran antagonis dalam cerita ini. Aku di jadikan tokoh jahat yang merebut kebahagiaan orang, aku lelah dengan semuanya.
Aku tahu, aku yang memilih untuk mengunggu mu. Seharusnya aku tidak mengeluh dengan semua ini, karena memang inilah pilihanku. Tapi pada kenyataannya, setelah semua berjalan seperti ini, aku tetap saja mengeluhkan semua itu. Mengeluhkan tentang kamu, tentang ketidakjelasan kita. Aku selalu mengira semua tulus sampai pada akhirnya ku tau semuanya dusta.
Alunan lagu “Ungu-dirimu satu” kini terdengar merdu. Aku masih saja menatap layar laptop, menuliskan tentang kamu. Jujur, aku pernah mencoba untuk melupakanmu, mencoba untuk mengikhlaskan kamu dengannya. Jika benar kau mencintai aku, bukankah kau tidak akan pernah memilihnya? Jika benar kau mencintai aku, bukankah kau akan berjuang untuk aku, bukan untuk wanita lain? Tapi kenyataannya tidak begitu kan? Jadi jangan salahkan aku jika memilih untuk pergi. Karena pada kenyataannya, kamu tidak pernah memperjuangkan ku.
Seseorang pernah bilang padaku “Harapanmu akan semakin menjadi nyata jika kau mau buktikan padanya bahwa perasaanmu nyata”. Apakah selama ini belum bisa meyakinkan semuanya? Apa semua yang sudah aku perjuangkan tak pernah kamu lihat? Lalu apa yang kamu lihat dari dia yang hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Jika semuanya sudah terjadi, tak bisakah kau mengubahnya? Tak bisakah kita membuat kenangan manis? Mengapa kau tetap bersama dia yang bahkan tidak bisa membuatmu bahagia?
Jadi wajar saja bila aku memutuskan untuk pergi. Aku ingin pergi dari semua tentang kamu, karena kamu sudah memilihnya. Pasti kau punya alasan mengapa memilih dia, itu pilihan kamu; aku hargai itu. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Karena nggak mungkin Tuhan mengambil tanpa mengembalikan dengan yang lebih indah. Jika memang kau di ambil dan di kembalikan karena kau yang terbaik, Tuhan pasti telah mempersiapkan caranya. Meskipun aku berusaha melupakanmu, berusaha tidak memperdulikanmu, ingatlah satu hal; aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.
Dari aku, seorang wanita yang tetap mencintaimu, meskipun entah bagaimana dengan kamu.
Minggu, 11 Januari 2015
Sabtu, 20 Desember 2014
5 cerita di 5 bulan kedekatan kita
Selamat malam. Aku begadang semalaman hanya untuk menuliskan
cerita ini. Aku tidak menyangka sudah 5 bulan kita dekat. Memang sejak satu
tahun yang lalu kita berteman, tapi selama 5 bulan ini semakin memperdalam
kedekatan kita. Bahkan selama 5 bulan ini, aku sudah memendam semuanya. Semua
yang tidak kamu ketahui. Kau tidak tahu kan? Ah sudahlah. Mana mungkin kau
mengetahui apa yang kau pendam. Bahkan kau tak akan pernah mau tau kan? Yang
kau pedulikan hanyalah wanita itu. Wanita yang sangat kau kagumi.
Tidak terasa aku sudah menuliskan 5 cerita. Awal cerita ini
kutulis di bulan Agustus. Disana aku menceritakan awal kita dekat. Saat pertama
kali aku memendam rasa ini. Saat kau menghancurkan harapanku, hingga saat kau
mengagumi wanita itu. Aku menceritakan semuanya. Menceritakan tentang kamu.
Semoga akan ada harapan baru di bulan selanjutnya. Di bulan
ke 6 kedekatan kita. Sekaligus di tahun yang baru, 2015. Semoga akan ada cerita
baru. Kenangan manis di dalamnya. Bukankah waktu itu kau mengajakku membuat
kenangan baru lagi? Ya, bersamamu. Aku harap semua itu akan terwujud nanti.
Keinginanku di tahun 2015, aku hanya ingin membuatmu bahagia. Tapi bahagia
bersamaku. Mungkin itu akan terjadi, jika saja kau mau melupakan kenangan pahit
itu. Bagaimana bisa aku membuatmu bahagia, kalau kamu masih saja mempertahankan
hal yang pahit? Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu bahagia? Aku hanya
tidak mau di anggap sebagai perusak hubungan orang, sayang.
Aku tidak bisa membuatmu bahagia, jika kamu masih tetap
bersamanya. Tapi jika selama ini kau bahagia dengannya, itu bagus. Tandanya aku
sudah berhasil membahagiakanmu. Meski harus aku yang terluka.
Semoga di bulan ke 6 nanti, akan ada cerita baru. Nanti,
akan ku tuliskan cerita baru lagi, yang tentunya dipenuhi dengan kenangan manis.
Aku harap nantinya kau sadar akan semuanya. Jika memang dia yang terbaik
untukmu, dia pasti akan membuatmu bahagia. Bukan malah menyiksamu seperti ini.
Aku harap kau bahagia dengannya. Akan ku tulis lembaran baru, cerita baru, yang
mungkin tidak ada kamu lagi di dalamnya. Mungkin karena aku terlalu sibuk mencintaimu,
hingga sekarang ini aku baru sadar, bukan aku yang ada dihatimu.
Dari seorang wanita, yang menginginkan kamu kembali seperti dulu.
Minggu, 14 Desember 2014
Apakah kamu pantas untuk aku pertahankan?
Sebelum membaca ini, salah satu penulis favorite ku pernah
bilang bahwa “tidak semua yang saya tulis adalah saya, dan tidak semua yang
kamu baca adalah kamu-Dwitasari”
Hai. Mungkin ketika aku menuliskan ini, kau masih tetap
bersamanya. Bersama wanita yang kamu pilih. Aku tahu, wanita itu bukan aku.
Selamat atas semuanya, bahkan aku sama sekali tidak menduga bahwa pada akhirnya
kau akan memilih dia. Entah kenapa rasa sakit itu ada ketika aku mendengar
berita tentang kalian. Apa ini yang dinamakan cemburu?
Aku bingung dengan semuanya. Kau bertindak seolah-olah kau
punya rasa. Kau bertindak seolah-olah kau menginginkanku kembali. Aku tidak
membutuhkan itu semua. Aku hanya membutuhkan tindakan nyatamu. Jika memang kau
punya rasa, kenapa kamu tidak menunjukkannya lewat tindakan nyata? Jika kamu
punya rasa, kenapa kamu tetap bersamanya? Kau tetap bersamanya, sedangkan
perhatianmu juga tetap kau arahkan padaku. Apa maumu?
Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah harus menebak nebak
apa keinginanmu. Aku lelah harus menebak apa isi hatimu. Setiap kali aku ingin
pergi, kau bertindak seolah-olah tidak ingin kehilanganku. Ketika aku mencoba
untuk melupakanmu, kau bertindak berbeda, dan kamu berhasil membuatku gagal
untuk melupakanmu. Jika kau memang punya rasa, kenapa kau masih tetap
beramanya? Apa kau juga tidak ingin kehilangan dia? Aku rasa iya.
Mungkin aku salah telah mempertahankan mu selama ini. Jujur,
memang sulit rasanya mempertahankan orang yang juga mencintai wanita lain. Aku
bingung pada semuanya, ketika aku ingin pergi, ada yang melarangku untuk
melakukan itu. Mamaku yang mulai menyukaimu. Sepertinya kau pintar menarik hati
orang lain ya? Seringkali beliau menanyakanmu. Bahkan ketika kau tidak
berkunjung ke rumahku, beliau juga tetap menanyakanmu. Tapi anehnya, ketika
orang tua saling merestui, malah kita yang tidak bisa satu. Mungkin ini belum
waktunya.
Jika kamu di hadirkan oleh dua pilihan, bukankah kamu harus
berani untuk kehilangan salah satunya? Jika kamu memilihku, maka kamu harus
berani untuk kehilangannya. Begitu pula sebaliknya, jika kamu memilih dia, maka
kamu harus berani kehilanganku. Jika kamu memilih dia, aku akan pergi.
Pertanyaan yang selalu ada dalam fikiran ku, apakah kamu pantas untuk aku
pertahankan? Jika memang iya, lakukanlah apa yang harus kamu lakukan. Yang aku
butuhkan hanyalah tindakan nyata, bukan hanya sekedar kata-kata dan harapan
kosong.
Untuk kamu, seseorang yang bahkan tidak tahu hatinya untuk
siapa.
Aku tidak mengerti..
Sebelum membaca ini, salah satu penulis favorite ku pernah
bilang bahwa “tidak semua yang saya tulis adalah saya, dan tidak semua yang
kamu baca adalah kamu-Dwitasari”
Hai. Sudah lama kita jadi canggung seperti ini. Semua itu berawal
ketika aku tahu bahwa kau mencintai wanita lain. Wanita itu bukan aku. Masih
ingatkah kamu tentang kejadian ini? Perbincangan terakhir kita yaitu pada saat
kita sedang makan bersama di sebuah cafe. Kau bilang padaku, bahwa kamu juga
mencintai wanita itu. Wanita yang kamu tunggu-tunggu. Wanita yang berhasil
membuatmu jatuh cinta. Apakah pada saat itu kau tau perasaanku? Apakah kau
mengerti, bagaimana rasanya menjadi wanita yang terlanjur mencintai sahabatnya
sendiri?
Setelah kejadian itu, semuanya berbeda. Kita tak lagi
bertegur sapa saat bertemu. Bahkan menoleh ke arahmu pun aku tidak mau. Terlalu
amat sakit untuk menjelaskan semuanya. Rasanya aku ingin membencimu, tapi semua
itu mustahil. Rasa ini lebih besar daripada rasa benciku kepadamu. Hampir
beberapa minggu kita tidak saling berbicara. Bahkan ketika kau menuliskan pesan
singkat untukku, tidak ada niat sedikit pun untuk membalasnya. Hingga akhirnya
kau memulai pembicaraan terlebih dahulu. Perkataanmu itu membuatku sadar, bahwa
yang aku lakukan selama ini salah. “Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa pesan
singkat dariku tak pernah kau balas? Aku tidak suka kamu yang seperti ini. You
changed”
Akibat perkataanmu itu, aku kembali seperti dulu. Aku mulai
membalas pesan singkatmu. Kita mulai bertegur sapa kembali, dan kau berhasil
membuatku memiliki rasa ini (lagi). Beberapa bulan setelah itu, kau mematahkan
harapanku. Ingatkah kamu? saat kau mengadakan acara di rumah mu. Kau
memperkenalkan dia. Wanita yang telah berhasil menaklukan hatimu. Tentu saja
itu bukan aku. Hal yang mustahil. Apakah kamu tahu bagaimana perasaanku saat
itu? Ingin rasanya aku menangis saat itu juga. Tapi aku sadar, meskipun aku
menangis selama mungkin, kau tetap tidak akan mengarahkan pandanganmu ke
arahku.
Aku bingung pada semua ini. Setelah kejadian itu, kau
bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kau bertindak seperti sedang tidak
menyakiti siapa pun. Kau tetap mengirimkan pesan singkat untukku. Kau tetap
bertindak seolah-olah kau menyukaiku. Aku tidak peduli hal itu. Karena bisa
saja, itu hanya rangkaian kata yang kau buat. Bukankah dulu kau pun pernah
begitu? Bertindak seolah kau punya rasa, padahal kau juga punya rasa untuk
wanita lain. Hal itu yang membuatku takut untuk mempercayaimu kembali.
Anehnya lagi, ketika wanita yang kamu pilih tidak sesuai
dengan harapanmu. Kau kembali ke arahku. Kau menanyakan kabarku dan bertindak seperti
dulu lagi, saat pertama kali kau membuatku jatuh cinta. Tetapi sampai saat ini
aku tidak begitu memperdulikanmu. Yang aku takutkan, kamu hanya menjadikanku
pelarian saat wanita yang kamu pilih, mengabaikanmu.
Dari aku, wanita yang sering membohongi perasaannya sendiri.
Demi melihatmu bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)